Kamis, 23 Oktober 2014

MY LITTLE CAMPAIGN: GAJAH-KU SAYANG, GAJAH-KU MALANG

Nadya Hutagalung, from: www.ghiboo.com


source: www.antaranews.com


“Gajah mati meninggalkan gading”. Pepatah tersebut tidak lagi sesuai dengan keadaan saat ini. Kini, mungkin lebih tepat jika berbunyi “ketika gajah mati tanpa meninggalkan gading”. Gajah dibunuh karena gadingnya. Ya itulah faktanya. Mengerikan sekali ketika mengetahui bahwa Asia merupakan pasar dan pemasok gading gajah terbesar. Tak bisa dipungkiri, hal ini terjadi karena peminat dan permintaan yang semakin meningkat.

Di industri mode sendiri, banyak sekali dijual aksesoris fesyen yang terbuat dari gading gajah seperti; gelang, kalung, cincin, anting dan lain-lain. Mungkin ada sebagian kecil (keciiil sekali, SANGAT kecil) penjual atau pengrajin yang mendapatkan gading gajah tersebut dari fosil atau gajah yang sudah mati. TAPI tetap saja, sulit untuk kita benar-benar mengetahui dari mana gading itu berasal. Oleh karenanya, kita harus tetap waspada dan menghindari karena percaya deh, tidak ada cara lain untuk melindungi gajah-gajah itu selain menghentikan pembelian dan pemakaian aksesori gading gajah.

Terbayang kan? Ketika kita memakai aksesoris atau menggunakan dekorasi yang terbuat dari gading gajah, berarti ada seekor gajah yang lucu nan manis menderita entah dimana. Hiiiy.. Selain itu, berarti kita turut melanggar hukum di Indonesia yang meng-ilegalkan perburuan gading gajah. Oleh karenanya, stop pemakaian dan pembelian aksesoris yang terbuat dari gading gajah. Tampil stylish dan up to date tetapi masih dengan cara melukai mahluk lain ciptaan Allah, hmmmm saya sih no ;) hehe setuju kan?.



With love,

Aquila Nurul Azizah


Note: hentikan juga pemakaian aksesoris atau outfit lainnya yang berasal dari bulu atau kulit hewan asli kecuali yang berasal dari hewan ternak. Setidaknya, hewan-hewan ternak tersebut bukan disembelih karena kulitnya semata. Toh kita juga mengkonsumsi daging, susu dan telurnya. 

Kamis, 02 Oktober 2014

FLOWER PRINT: FROM THE MARVEL OF BEAUTY

Assalamu’alaikum, kali ini saya akan membahas tentang bunga. Ya, bunga. Siapa yang suka bunga? Hehe. Tentu yang akan saya ulas disini bukan bunga bank atau bunga paasir (loh?). Bunga atau flower. Sesuatu yang indah yang diciptakan oleh Sang Maha Indah. Merupakan rahasia umum bahwa wanita sangat menyukai bunga-bungaan.  Saya pribadi, pengagum makhluk hidup yang satu ini. Dari mulai bunga tradisional Indonesia sampai bunga mancanegara seperti Tulip, Bluebell, dan lain-lain. Warna nya yang cantik menjadi penyemangat dihari yang kelabu. Tidak heran, saat ini banyak istilah “Flower Power”, karena memang, sekuntum bunga memiliki “power” nya tersendiri. Dapat mencerahkan hati siapa saja yang melihatnya, mengubah suasana yang kelam menjadi lebih berwarna *tsaaaah :D.

Bunga adalah simbol keanggunan, dan selalu melambangkan keindahan yang alami. Saat ini, banyak sekali terdapat barang dengan motif bunga atau yang biasa kita sebut flower print atau floral print. Mulai dari outfit sampai interior rumah. Pada industri Fashion sendiri, dalam menghasilkan sebuah karya, banyak desainer berbakat yang terinspirasi dari si cantik satu ini.

Flower Print Fabric
Photo: cheapfabrics.org.uk


Ternyata oh ternyata, floral print pertama berasal dari Bangsa Asia dan Timur Tengah (bangga dong menjadi bagian dari bangsa Asia). Seperti dikutip dari Island Window Covering, flower print muncul pada abad ke 12 di Asia Timur dengan kain panel persegi bahan Sutera dengan motif bunga dan hewan. Popularitas flower print kian menyebar hingga ke Eropa dan Timur Tengah.

Embroidered Square animal & Flowers - East Asia 12th-14th Century
Photo: www.metmuseum.org


1830, floral prints, Victorian Dress
Photo: pinterest.com


Di Jepang dan Korea sendiri, flower print ditampilkan pada kimono dengan warna-warna cerah dan berani. Sementara pada era Victoria, karya seni flower print atau floral design menjadi simbol keanggunan dan kemewahan. Pada zaman dahulu, floral print dibuat secara manual seperti ditenun atau dilukis langsung diatas kain dan dinding.

Floral Kimono
Photo: twelvegoodreasons.wordpress.com


Hingga tahun 2013, tren floral masih sangat digemari baik untuk home decor atau fashion. Dengan tampilan klasik yang diproses secara modern, flower print dapat diaplikasikan dimana saja seperti sofa, gordyn, karpet, wall decor, kitchen tools, outfit dan aksesoris seperti tas, topi, rok, blus dan masih banyak lagi. Kini flower print dapat dibuat menggunakan cetakan yang dihasilkan komputer, dan lain sebagainya.



Menarik bukan?. Well, kita dapat mengambil inspirasi dari mana saja, termasuk keindahan alam seperti bunga-bungaan, the marvel of beauty.

With love,

Aquila Nurul Azizah

Jumat, 23 Mei 2014

BLESSINGS IN SOUTH SUMATERA

“Orang bilang tanah kita tanah surga
 Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman..”
– Koes Plus

A few weeks ago, my aunt (Auntie Nunung) invited me to visit an area that far far away from my lovely home. Ya, sebuah kota kecil di tanah Sumatera bernama Musi Banyuasin (2 hours riding car from Palembang, The Capital City of South Sumatera).  Since my aunt visited there because of the task from her office in Jakarta to control the work over there, it was a great pleasure to accompany her and do the ‘little adventure’ at the same time :p. Alhamdulillaah and thanks to you, aunt :).

I was so excited! because it has been 21 years I have never visited South Sumatera. Maklum, saya memang lahir di Sumatera Selatan, tepatnya di Lubuklinggau (7 hours from Palembang) and when I was a-cute-2-months-baby-girl, my parents moved to Central Java hehe. Perjalanan ini pun untuk napak tilas tempat kelahiran saya ;). Sepanjang jalan lintas Sumatera, saya asik mengamati pemandangan di kanan-kiri jalan. Ternyata, luaaaass sekali perkebunan disana dan ada berbagai macam jenis perkebunan yang saya temui seperti kelapa sawit, karet, cengkeh, buah-buahan lainnya, dan hmmmm coklat! :P.

And that was the first time I saw the REAL oil palm plantations (memangnya ada yang palsu? :P). Maksud saya, baru kali itu saya melihat pohon kelapa sawit berjajar diiiiiiiiii sepanjang jalan menuju TKP. It was a very wide oil palm plantations and I am amazed. A scenery that rarely seen in the land of Java. Baru hari itu saya benar2 melihat bahwa Indonesia ini sungguh memiliki tanah yang subur. As the lyrics above talks about, “tongkat, kayu dan batu jadi tanaman”, sampai-sampai kalau kita menancapkan begitu saja kayu atau cabang batang pohon di tanah, akan menjadi bibit baru nantinya. It is also Proved by the diversity of plantations in Indonesia. All praise to The Creator.

As featured in various article, Indonesia put itself as the largest crude palm oil producer in the world. Indonesia dominate world markets crude palm oil by 47% in 2011. Besides, exports of palm oil can contribute State foreign exchange of USD 14 billion in 2010 and expected to continue to increase significantly from year to year. Indonesia juga menempati peringkat kedua sebagai eksportir karet mentah Dunia and was mentioned as a supplier with the best quality materials. Isn’t that amazing?

I am proud to be Indonesian dan melihat petani-petani perkebunan yang begitu bekerja keras, I hope those plantations commodities bring prosperity for the citizens of Indonesia especially for them. Benar-benar dari tanah Indonesia, dikelola oleh orang-orang Indonesia dan untuk orang-orang Indonesia :). Aamiin Ya Allah..

By the way, karena di sana sinyal Hp kian memburuk, jadi deh saya melupakan Hp untuk beberapa waktu dan bermain2 dengan camera. Mobil kami pun berhenti sejenak dalam perjalanan menuju TKP hehehe karna tempat yang harus tante saya datangi masih berada jauuh didepan. Memotret momen saat saya dan tante bermain-main ditengah perkebunan Kelapa Sawit (penasaran :p) dan Karet.


Voila! I was just realized that palm oil plantations and rubber plantations are very beautiful for the location of photoshoot! It’s pretty amazing! :D hehe. These are the photos taken by me, my aunt and her colleague.







My beautiful aunt









Love,
Aquila N. A. 



References: